Rabu, 08 Juli 2015

Komunikator Politik




I.       PENDAHULUAN

Pembahasran tentang komunikasi politik memang telah menjadi hal yang lazim karena setiap apa yang terjadi dalam kehidupan tak pernah terlepas dan selalu berhubungan dengan politik. Kenyataan yang demikian tentunya menimbulkan berbagai macam respon ataupun tanggapan yang semuanya harus disampaikan melalui sebuah komunikasi.

Berbicra masalah pengertian kounikasi politik, tentunya perlu diketahui pengartian masing-masingnya. Komunikasi merupakan hubungan secara langsung atau tidak langsung, secara tertulis atau tidak tertulis seorang pemberi pesan  kepada orang lain sebagai penerima pesan yang berisi informasi melalui media tertentu. Menurut Lasswell komunikasi politik mencakup : pesan politik, persuasi atau ajakan politik, media politik, khalayak politik adn dampak politik.

Roelofs (dalam Sumarno & Suhandi, 1993) mendefinisikan komunikasi politik sebagai komunikasi yang materi pesan-pesan berisi politik yang mencakup masalah kekuasaan dan penempatan pada lembaga-lembaga kekuasaan (lembaga otoritatif). Definisi ini menggunakan pendekatan kekuasaan dan kelembagaan (baca: pandangan politik).

Secara sederhana, komunikasi politik (political communication) adalah komunikasi yang melibatkan pesan-pesan politik dan aktor-aktor politik, atau berkaitan dengan kekuasaan, pemerintahan, dan kebijakan pemerintah. Dengan pengertian ini, sebagai sebuah ilmu terapan, komunikasi politik bukanlah hal yang baru. Komunikasi politik juga bisa dipahami sebagai komunikasi antara “yang memerintah” dan “yang diperintah”.

Mengkomunikasikan politik tanpa aksi politik yang kongkret sebenarnya telah dilakukan oleh siapa saja: mahasiswa, dosen, tukang ojek, penjaga warung, dan seterusnya. Dalam praktiknya, komuniaksi politik sangat kental dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, dalam aktivitas sehari-hari, tidak satu pun manusia tidak berkomunikasi, dan kadang-kadang sudah terjebak dalam analisis dan kajian komunikasi politik. Berbagai penilaian dan analisis orang awam berkomentar soal kenaikan BBM, ini merupakan contoh kekentalan komunikasi politik. Sebab, sikap pemerintah untuk menaikkan BBM sudah melalui proses komunikasi politik dengan mendapat persetujuan DPR

Sedangkan politik adalah usaha-usaha yang ditempuh warga negara untuk membicarakan dan mewujudkan kebaikan bersama. Aristoteles (dalam The Politics, 1972) berpendapat bahwa urusan-urusan yang menyangkut kebaikan bersama memiliki moral yang lebih tinggi dari pada urusan-urusan yang menyangkut kepentingan swasta (kelompok masyarakat). Manusia merupakan makluk politik dan sudah menjadi hakekat manusia untuk hidup dalam polis (negara kota). Kebaikan bersama adalah kepentingan pemerintah, karena lembaga pemerintah dibentuk untuk menyelenggarakan kebaikan bersama.

Namun secara universal politik adalah hal-hal yang menyangkut interaksi pemerintah dan masyarakat, dalam rangka proses pembuatan dan pelaksanaan keputusan yang mengikat tentang kebaikan bersama bagi masyarakat yang tinggal dalam suatu wilayah tertentu.

Dari kedua pengertian tersebut dapat diartikan bahwa komunikasi politik merupakan hubungan vertikal maupun horizontal antara pemerintah dengan rakyat, rakyat dengan pemerintah, pemerintahan dengan pemrintah yang berbicara atau berkomunikasi tentang politik melalui media tertentu. Dalam komunikasi politik tentunya banyaka hal yang perlu dibahas dan diketahui, salah satuya adalah komunikator politik.


II.    ISI

A.    Komunikator Politik

Komunikator Politik merupakan orang (pemerintah) yang menyampaikan pesan politik kepada penerima pesan (rakyat). Artinya seorang komunikator politik haruslah orang yang mengetahui selukbeluk politik dan mngemrti akan perkembangan politik agar pesan yang disampaikannya memberi pengaruh yang baik kepada rakyat. Dalam arti lain elit politik dalam berkomunikasi harus kompeten dibidangnya.

Orang yang kompeten dalam konukator politik trsebut oleh Dan Nimmo (1989) diklasifikasikan komunikator utama dalam politik sebagai berikut:
1.      politikus;
2.      professional; dan
3.      aktivis.
1. Politikus
Politikus adalah orang yang bercita-cita untuk dan atau memegang jabatan pemerintah, tidak peduli apakah mereka dipilih, ditunjuk, atau pejabat karier, dan tidak mengindahkan apakah jabatan itu eksekutif, legislatif, atau yudukatif. Daniel Katz (dalam Nimmo, 1989) membedakan politikus ke dalam dua hal yang berbeda berkenaan dengan sumber kejuangan kepentingan politikus pada proses politik. Yaitu: politikus ideolog (negarawan); serta politikus partisan.
a. Politikus ideolog adalah orang-orang yang dalam proses politik lebih memperjuangkan kepentingan bersama/publik. Mereka tidak begitu terpusat perhatiannya kepada mendesakkan tuntutan seorang langganan atau kelompoknya. Mereka lebih menyibukkan dirinya untuk menetapkan tujuan kebijakan yang lebih luas, mengusahkan reformasi, bahkan mendukung perubahan revolusioner-jika hal ini mendatangkan kebaikan lebih bagi bangsa dan negara.
b. Politikus partisan adalah orang-orang yang dalam proses politik lebih memperjuangan kepentingan seorang langganan atau kelompoknya.
2. Profesional
Profesional adalah orang-orang yang mencari nafkahnya dengan berkomunikasi, karena keahliannya berkomunikasi. Komunikator profesional adalah peranan sosial yang relatif baru, suatu hasil sampingan dari revolusi komunikasi yang sedikitnya mempunyai dua dimensi utama: munculnya media massa; dan perkembangan serta merta media khusus (seperti majalah untuk khalayak khusus, stasiun radio, dsb.) yang menciptakan publik baru untuk menjadi konsumen informasi dan hiburan. Baik media massa maupun media khusus mengandalkan pembentukan dan pengelolaan lambang-lambang dan khalayak khusus.
Di sini masuklah komunikator profesional ”yang mengendalikan keterampilan yang khas dalam mengolah simbol-simbol dan yang memanfaatkan keterampilan ini untuk menempa mata rantai yang menghubungkan orang-orang yang jelas perbedaannya atau kelompo-kelompok yang dibedakan”. James Carey (dalam Nimmo, 1989) mengatakan bahwa komunikator profesional adalah makelar simbol, orang yang menerjemahkan sikap, pengetahuan, dan minat suatu komunitas bahasa ke dalam istilah-istilah komunitas bahasa yang lain ang berbeda tetapi menarik dan dapat dimengerti.
Komunikator profesional beroperasi (menjalankan kegiatannya) di bawah desakan atau tuntutan yang, di satu pihak, dibebabnkan oleh khalayak akhir dan, di lain pihak , oleh sumber asal. Seperti politikus yang dapat dibedakan politikus ideolog dan partisan, profesional mencakup para jurnalis pada satu sisi, dan para promotor pada sisi lain.
a.       Jurnalis sebagai siapun yang berkaitan dengan media berita dalam pengumpulan, persiapan, penyajian, dan penyerahan laporan mengenai peristiwa-peristiwa. Ini meliputi reporter yang bekerja pada koran, majalah, radio, televisi, atay media lain; koordinator berita televisi; penerbit; pengarah berita; eksekutif stasiun atau jaringan televisi dan radio; dan sebagainya. Sebagai komunikator profesional, jurnalis secara khas adalah karyawan organisasi berita yang menghubungkan sumber berita dengan khalayak. Mereka bisa mengatur para politikus untuk berbicara satu sama lain, menghubungkan politikus dengan publik umum, menghubungkan publik umum dengan para pemimpin, dan membantu menempatkan masalah dan peristiwa pada agenda diskusi publik.
b.      Promotor adalah orang yang dibayar untuk mengajukan kepentingan langganan tertentu. Yang termasuk ke dalam promotor adalah agen publisitas tokoh masyarakat yang penting, personel hubungan masyarakat pada organisasi swasta atau pemerintah, pejabat informasi publik pada jawatan pemerintah, skretaris pers kepresidenan, personel periklanan perusahaan, manajer kampanye dan pengarah publisitas kandidat politik, spesialis teknis (kameraman, produser dan sutradara film, pelatih pidato, dsb.) yang bekerja untuk kepentingan kandidat politik dan tokoh masyarakat lainnya, dan semua jenis makelar simbol yang serupa.
3. Aktivis
Aktivis adalah komunikator politik utama yang bertindak sebagai saluran organisasional dan interpersonal. Pertama, terdapat jurubicara bagi kepentingan yang terorganisasi. Pada umumnya orang ini tidak memegang ataupun mencita-citakan jabatan pada pemerintah; dalam hal ini komunikator tersebut tidak seperti politikus yang membuat politik menjadi lapangan kerjanya. Jurubicara ini biasanya juga bukan profesional dalam komunikasi. namun, ia cukup terlibat baik dalam politik dan semiprofesional dalam komunikasi politik. Berbicara untuk kepentingan yang terorganisasi merupakan peran yang serupa dengan peran politikus partisan, yakni mewakili tuntutan keanggotaan suatu organisasi. dalam hal lain jurubicara ini sama dengan jurnalis, yakni melaporkan keputusan dan kebijakan pemerintah kepada anggota suatu organisasi.
Kedua, terdapat pemuka pendapat yang bergerak dalam jaringan interpersonal. Sebuah badan penelitian yang besar menunjukkan bahwa banyak warga negara yang dihadapkan pada pembuatan keputusan yang bersifat politis, meminta petunjuk dari orang-orang yang dihormati mereka. Apakah untuk mengetahui apa yang harus dilakukannya atau memperkuat putusan yang telah dibuatnya. Orang yang dimintai petunjuk dan informasinya itu adalah pemuka pendapat. Mereka tampil dalam dua bidang:
a.          Mereka sangat mempengaruhi keputusan orang lain; artinya, seperti politikus ideologis dan promotor profesional, mereka meyakinkan orang lain kepada cara berpikir mereka.
b.         Mereka meneruskan informasi politik dari media berita kepada masyarakat umum. Dalam arus komunikasi dua tahap gagasan sering mengalir dari media massa kepada pemuka pendapat dan dari mereka kepada bagian penduduk yang kurang aktif . banyak studi yang membenarkan pentingnya kepemimpinan pendapat melalui komunikasi interpersonal sebagai alat untuk mengetahui peristiwa-peristiwa yang penting.

B.     Komunikator Politik dan Kepemimpinan Politik
Nimmo menyatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu hubungan di antara orang-orang di dalam suatu kelompok yang di dalamnya satu atau lebih orang (pemimpin) mempengaruhi yang lain (pengikut) di dalam setting tertentu. Lebih lanjut, Ilmuwan politik merangkumkan kecenderungan yang membedakan pemimpin dan bukan pemimpin di dalam kelompok.
Pemimpin memperoleh kepuasan yang beragam karena menjadi anggota kelompok; lebih kuat dalam memegang nilai-nilai mereka; memiliki kepercayaan yang lebih besar tentang kelompok itu dan hubungannya dengan kelompok lain, pemerintah, masalah politik, dan sebagainya; kurang kemungkinannya untuk berubah kepercayaan, nilai, dan pengharapannya karena tekanan yang diberikan kepadanya; lebih mungkin membuat keputusan mengenai kelompok berdasarkan kepercayaan, nilai dan pengharapan sebelumnya; dan lebih berorientasi kepada masalah, terutama mengenai masalah yang menyangkut perolehan material, alih-alih kepuasan yang kurang nyata atau pertanyaan yang penuh emosi.
Lebih dari itu, yang dilakukan pemimpin adalah melakukan kegiatan berorientasi tugas, yaitu menetapkan dan bekerja untuk mencapai prestasi atau tujuan kelompok, mengorganisasi agar pekerjaan dapat dapat diselesaika; juga melakukan kegiatan berorientasi orang, sosial, atau emosi seperti perhatian terhadap keinginan dan kebutuhan pengikut, penciptaan hubungan pribadi yang hangat, pengembangan rasa saling percaya, pengusahaan kerja sama, dan pencapaian solidaritas sosial.
Jika dihubungakn antara pemimpin denagn komunikator politik maka bagi komunikator politik, untuk menjadi pemimpin politik ia harus berperilaku sebagaimana yang diharapkan orang terhadap pemimpin; pengikut mengaitkan kepemimpinan dengan orang yang sesuai dengan pengertian mereka tentang apa pemimpin itu. Beberapa komunikator merupakan pemimpin karena posisi yang diduduki mereka di dalam struktur sosial atau kelompok terorganisasi yang ditetapkan dengan jelas.
Di luar organisasi mungkin mereka tidak banyak artinya bagi orang. Komunikator seperti itu kita sebut pemimpin organisasi. Namun, komunikator yang tidak menduduki posisi yang ditetapkan dengan jelas; atau, jika menduduki posisi demikian, mereka berarti bagi orang karena alasan di luar peran keorganisasian. Komunikator politik yang merupakan pemimpin karena arti yang ditemukan orang dalam dirinya sebagai manusia, kepribadian, tokoh yang ternama, dan sebagainya, kita beri nama pemimpin simbolik.
Jelas bahwa sebagian besar politikus, komunikator profesional, dan aktivis politik adalah pemimpin organisasi. pejabat terpilih, atau karier mempunyai posisi formal kepemimpinan di dalam jaringan komunikasi yang terorganisasi yang membentuk pemerintah. Komunikator profesional sering merupakan karyawan organisasi-wartawan yang bekerja pada organisasi media massa, dan promotor sebagai anggota organisasi memublikasikan kepentingan perusahaan, jawatan pemerintah, kandidat atau partai politik. Jurubicara sebagai komunikator aktivis adalah pembela organisasi. dari komunikator politik utama yang dilukiskan lebih dulu, hanya pemuka pendapat yang bekerja melalui keakraban yang disediakan oleh jaringan komunikasi interpersonal berada terutama di luar struktur organisasi yang diformalkan.
Contoh kejadian seorang komunikator memiliki kepemimpinan dan kepengikutan adalah cara komplementer untuk meninjau suatu transaksi tunggal.
  1. Bagi para pemimpin ada beberapa ganjaran, misalnya, pemimpin mempunyai peluang yang lebih besar untuk menguasai keadaan dan mengendalikan nasibnya. Lebih dari itu, ada sesuatu yang menarik dalam kemampuan mempengaruhi orang lain, menegaskan kekuasaan di dalam kelompok, dan bahkan memberikan keuntungan dan kerugian. Kemudian ada ganjaran ekonomis. Pemimpin organisasi biasanya menduduki posisi dengan gaji yang menarik; pemimpin simbolik sering mendapat bantuan keuangan dari pendukung yang kaya. Apa lagi, ada keuntungan yang meningkat karena memiliki status yang lebih tinggi, baik dalam arti bahwa anggota-anggota kelompok menaruh rasa hormat kepada pemimpin mereka maupun dalam arti bahwa pemimpin itu menguasai cukup sumber nafkah melalui dukungan para pengikutnya –tinggal di rumah mewah, pasukan sekretaris dan asisten, transportasi yang nyaman, orang-orang yang melayani- semua ini bisa merupakan milik yang menyenangkan dan menjadi ganjaran yang pantas bagi para pemimpin.
  2. Bagi para pengikut ada beberapa keuntungan yang didapatkannya. Perlu diyakinii ada tiga keuntungan utama yang diperoleh pengikut dari transaksi kepemimpinan-kepengikutan. Pertama, ada keuntungan material yang terdiri atas ganjaran berupa barang dan jasa; kedua, keuntungan solidaritas yang berupa ganjaran sosial atau hanya bergabung dengan orang lain dalam kegiatan bersama –sosialisasi, persahabatan, kesadaran status, identifikasi kelompok, keramahan, dan kegembiraan; ketiga, keuntungan ekspresif yang berupa keuntungan ketika tindakan yang bersangkutan mengungkapkan kepentingan atau nilai seseorang atau kelompok, bukan secara intrumental mengejar kepentingan atau nilai. Beberapa orang , misalnya, mendapat kepuasan hanya dengan mendukung seorang calon politik sebagai cara mengatakan kepada orang lain bahwa mereka menentang kejahatan, atau perang, atau kemiskinan, atau korupsi.
Jika dirangkum, terdapat ikatan di antara pemimpin dan pengikut yang ditempa oleh kepuasan material, sosial, dan emosional yang diturunkan orang dari keikutsertaan dalam politik. Kepuasan ini, terutama yang kurang berwujud, yaitu jenis sosioemosional, muncul di dalam dan melalui proses komunikasi. komunikasi menciptakan, mendorong, atau menghancurkan rasa solidaritas di antara orang-orang dan rasa puas pribadi dalam mengungkapkan harapan dan cita-cita, ketakutan dan kegelisahan orang. Kemudian, sampai taraf yang sangat luas, ikatan antara pemimpin dan pengikut adalah ikatan komunikasi. Oleh sebab itu, komunikator politik utama memainkan peran strategis, bertindak sebagai pemimpin politik dengan menyiarkan pesan-pesan yang oleh para pengikutnya dianggap berarti dan memuaskan, sesuai dengan kepentingan dan nilai-nilai yang mereka yakini.

C.    Komponen Efektivitas Komunikator Politik
Dalam komunikasi politik, komunikator politik merupakan salah satu faktor yang menentukan efektivitas komunikasi. Beberapa studi mengidentifikasi sejumlah karakteristik yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk mempengaruhi orang lain. Richard E. Petty dan John T. Cacioppo dalam bukunya Attitudes and Persuasion: Classic and Contemporary Approaches, dikatakan bahwa ada empat komponen yang harus ada pada komunikator politik, yaitu communicator credibility, communicator attractiveness, communicator similarity dan communicator power (Petty, 1996).
1.      Kredibilitas
Kredibilitas sumber mengacu pada sejauh mana sumber dipandang memiliki keahlian dan dipercaya. Semakin ahli dan dipercaya sumber informasi, semakin efektif pesan yang disampaikan. Kredibilitas mencakup keahlian sumber (source expertise) dan kepercayaan sumber (source trustworthiness).
a.                    Keahlian sumber
Keahlian sumber adalah tingkat pengetahuan yang dimiliki sumber terhadap subjek di mana ia berkomunikasi. Sementara kepercayaan sumber adalah sejauh mana sumber dapat memberikan informasi yang tidak memihak dan jujur. Para peneliti telah menemukan bahwa keahlian dan kepercayaan memberikan kontribusi independen terhadap efektivitas sumber. Karena sumber yang sangat kredibel menghalangi pengembangan argumen tandingan, maka sumber yang kredibel menjadi lebih persuasif dibanding sumber yang kurang kredibel
b.      Aspek kepercayaan
Aspek Keprcayaan memiliki indikator-indikator antara lain tidak memihak, jujur, memiliki integritas, mampu, bijaksana, mempunyai kesungguhan dan simpatik.
2.      Daya tarik
      Daya tarik seorang komunikator bisa terjadi karena penampilan fisik, gaya bicara, sifat pribadi, keakraban, kinerja, keterampilan komunikasi dan perilakunya. Daya tarik fisik sumber (source physical attractiveness) merupakan syarat kepribadian . Daya tarik fisik komunikator yang menarik umumnya lebih sukses daripada yang tidak menarik dalam mengubah kepercayaan. Beberapa item yang menggambarkan daya tarik seseorang adalah tampan atau cantik, sensitif, hangat, rendah hati, gembira, dan lain-lain.
3.      Kesamaan
Sumber disukai oleh audience bisa jadi karena sumber tersebut mempunyai kesamaan dalam hal kebutuhan, harapan dan perasaan. Dari kacamata audience maka sumber tersebut adalah sumber yang menyenangkan (source likability), yang maksudnya adalah perasaan positif yang dimiliki konsumen (audience) terhadap sumber informasi. Mendefinisikan menyenangkan memang agak sulit karena sangat bervariasi antara satu orang dan orang lain. Namun secara umum, sumber yang menyenangkan mengacu pada sejauh mana sumber tersebut dilihat berperilaku sesuai dengan hasrat mereka yang mengobservasi. Jadi, sumber dapat menyenangkan karena mereka bertindak atau mendukung kepercayaan yang hampir sama dengan komunikan.
Sumber yang menyenangkan (sesuai kebutuhan, harapan, perasaan komunikan) akan mengkontribusi efektivitas komunikasi, bahkan lebih memberikan dampak pada perubahan perilaku. Bila itu terjadi, sumber tersebut akan menjadi penuh arti bagi penerima, artinya adalah bahwa sumber tersebut mampu mentransfer arti ke produk atau jasa yang mereka komunikasikan.
4.      Power
Sumber yang mempunyai power, menurutnya, akan lebih efektif dalam penyampaian pesan dan penerimaannya daripada sumber yang kurang atau tidak mempunyai power. Pada dasarnya, orang akan mencari sebanyak mungkin penghargaan dan menghindari hukuman. Sebagaimana dikemukakan oleh Kelman
Jadi pada dasarnya harus ada tiga syarat untuk menjadi seorang powerful communicator, yaitu:
1.      the recipients of the communication must believe that the source can indeed administer rewards or punishments to them;
2.      recipients must decide that the source will use theses rewards or punishments to bring about their compliance;
3.      the recipients must believe that the source will find out whether or not they comply.
Dengan dihasilkan dan terpeliharanya kepatuhan, artinya komunikator dapat mempengaruhi atau mempersuasi perilaku komunikan. Dalam upayanya mempersuasi komunikan, biasanya ada dua faktor penunjang yang harus diperhatikan pula oleh komunikator. Dua faktor tersebut adalah keterlibatan sumber dan kepentingan isu bagi penerima. Keterlibatan yang tinggi menghasilkan efektivitas pesan yang tinggi pula, dan isu yang semakin dekat dengan kepentingan penerima biasanya akan lebih mendorong efektivitas pesan.

III.    PENUTUP

Kesimpulan

Pada peristiwa komunikasi yang manapun, faktor komunikator merupakan suatu unsur yang penting sekali peranannya. Sekalipun nantinya keberhasilan komunikasi yang dimaksud secara menyeluruh bukan hanya ditentukan oleh sumber, namun mengingat fungsinya sebagai pemrakarsa dalam aktifitas yang bersangkutan, maka bagaimanapun juga dapat dilihat betapa menentukannya peran tersebut. Karena itu dalam mengamati proses komunikasi politik, perlu sekali terlebih dahulu memahami karakteristik masing-masing komunikator tersebut, setidak-tidaknya secara umum, guna mendapatkan gambaran tentang bagaimana kelak kemungkinan-kemungkinan yang timbul baik dalam berlangsungnya proses komunikasi itu sendiri, maupun dalam keseluruhan hasil komunikasi yang dilakukan.
Komunikasi politik menjadikan seorang elit politik yang kredibel di bidangnya menjadi sumber utama dalam proses hubungan pesan politik antara pemerintah dan masyarakat yang walaupun keberadan pemerintah disini juga sebagai seorang komunikator politik. Dilain hal seseorang dapat dikatan sebagai seorang komunikator politik adalah karana dia adalah seorang Politikus, orang yang memiliki cita2 untuh pemerintahan yang baik untuk sebuah kesamaan kebutuhan untuk masyarakat.
Dapat dikatakan sebagai komunikator politik apabila orang tersebut adalah orang yang profesional yaitu orang-orang yang mencari nafkahnya dengan berkomunikasi, karena keahliannya berkomunikasi. Komunikator profesional adalah peranan sosial yang relatif baru, suatu hasil sampingan dari revolusi komunikasi yang sedikitnya mempunyai dua dimensi utama: munculnya media massa; dan perkembangan serta merta media khusus. Sehingga keprofesinalannya dapat dipertanggungjawabkan.
Selanjutnya seseorang dikatakan sebagai seorang komunikator politik adalah Aktivis. Aktifis adalah komunikator politik utama yang bertindak sebagai saluran organisasional dan interpersonal. Posisi mereka dapat dikatakan tangan kedua, maksudnya mereka mampu untuk mempengaruhi keputusan orang lain dengan cara berfikir mereka, serta mereka juga mampu meneruskan informasi politik yang belum sampai pada masyarakat.
Dalam komunikasi politik sebai seoran komunikatorseorang elit politik harus memiliki kredibelitas sebagai suatu keahlian dimana setiap informasi dan pesan yang disampaikannya dapat dipercaya oleh orang lain. Mereka juga harus memiliki daya tarik dari setiap kompenen yang bisa mendukung dirinya untuk tampil sebagi pembawa pesan politik, memiliki kesamaan kebutuhan atas masyarakat, serta memiliki power untuk mempertegas dan meyakinkan orang lain bahwa pesan dan apa yang dilakukakannya dipercaya orang lain.

DAFTAR PUSTAKA

Dan Nimmo, 1989. Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan dan Media (Edisi Terjemahan oleh Tjun Surjaman). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Abdul Rahman. Skripsi. Partisipasi Masyarakat Dalam Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kota Bukittinggi 2006-2010. Petty, Richartd. E. and John T. Cacioppo. 1996. Catatan kaki. Fisip Unand.
Zulkarnaen Nasution, 1990, Komunikasi Politik Suatu Pengantar, Jakarta: Yudhistira.
www.fisipui.com. Sutrisno Santoso. Macam-macam komunikator politikk.
google.com. Komunikasi politik.
















                                                                                                        






Senin, 18 Mei 2015

Atraksi dalam Komunikasi Interpersonal dan Hubungan Interpersonal

KATA PENGANTAR


            Puji syukur kami  panjatkan  kehadirat  ALLAH  SWT ,Tuhan YME yang telah memberi karunia kepada kami , sehingga makalah ini dapat di susun  sebagai wujud kontribusi  kami pada pemahaman tentang Atraksi dalam Komunikasi Interpersonal dan Hubungan Interpersonal.
            Ucapan terima kasih sampaikan kepada dosen kami ibu Nurjanah M.Si, yang telah membimbing, mengajar, dan telah mendukung ,serta sera kepada seluruh teman-teman ,yang senantiasa mengapresiasi pemahaman terhadap administrasi organisasi manajemen.
            Kami memahami bahwa makalah ini jauh dari kata sempurna , oleh karena itu kami mohon maaf yang sebesar-besar nya.
Harapan kami semoga makalah kami  dapat diterima sebagai wujud dedikasi kami dalam pembelajaran mata kuliah Psikologi Komunikasi yang  tengah  kami tempuh ini .

Pekanbaru, 13 April 2015



Penyusun


DAFTAR ISI

                                                                                                      


 

PENDAHULUAN


1.1Latar Belakang

Mengetahui garis-garis atraksi dan penghindaran dalam sistem sosial artinya mampu meramalkan dari mana pesan akan muncul, kepada siapa pesan itu akan mengalir, dan lebih-lebih lagi bagaimana pesan akan diterima.  Dengan bahasa sederhana, ini berarti, dengan mengetahui siapa tertarik kepada siapa atau siapa menghindari siapa, kita dapat meramalkan arus komunikasi interpersonal yang akan terjadi.
Sudah diketahui bahwa pendapat dan penilaian kita tentang orang lain tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan rasional. Kita juga makhluk emosional. Karena itu, ketika kita menyenangi seseorang,kita juga cenderung melihat segala hal yang berkaitan dengan dia secara positif. Sebaliknya, jika kita membencinya, kita cenderung melihat karakteristiknya secara negatif.
Komunikasi interpersonal dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan. Bila anda berkumpul dalam satu kelompok yang memiliki kesamaan dengan Anda,Anda gembira, dan terbuka. Berkumpul dengan orang-orang yang anda benci akan membuat Anda tegang,resah, dan tidak enak. Anda akan menutup diri dan menghindari komunikasi.




1. 2 Rumusan Masalah


1.      Apa pengertian dan konsep Atraksi Komunikasi Interpersonal?
2.      Apa saja faktor-faktor Personal yang mempengaruhi Atraksi Interpersonal?
3.      Apa saja faktor-faktor Situasional yang mempengaruhi Atraksi Interpersonal?
4.      Apa saja teori tentang Liking?
5.      Apa pengaruh Atraksi Personal pada Komunikasi Interpersonal?
6.      Apa saja jenis-jenis Hubungan Interpersonal?
7.      Bagaimana perkembangan Hubungan Interpersonal?
8.      Apa saja pola-pola Relasional dalam Hubungan Interpersonal?
9.      Apa faktor-faktor yang mempengaruhi pola Hubungan Interpersonal?

1.3 Tujuan Pembelajaran


Adapun tujuan pembelajaran dari makalah ini adalah untuk mengetahui Atraksi dalam komunikasi Interpersonal dan mengetahui Hubungan Interpersonal dalam Psikologi Komunikasi serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Diharapkan dapat memahami konsep-konsep dan pengaruhnya pada kehidupan manusia.






PEMBAHASAN


1.        Atraksi Dalam Komunikasi Interpersonal

A.     PENGERTIAN DAN KONSEP

Kita dapat meramalkan arus komunikasi interpersonal yang akan terjadi. Semakin tertarik kita kepada seseorang, maka semakin besar kecenderungan kita berkomunikasi dengan dia. Dean C Barlund, seoarang  ahli komunikasi interpersonal, menulis, “Mengetahui garis-garis atraksi dan penghindaran dalam sistem sosial artinya mampu meramalkan dari mana peesan akan muncul, kepada siapa pesan itu akan mengalir, dan lebih-lebih lagi bagaimana pesan akan diterima.” (Barlund, 1967:71). Dengan bahasa sederhana, ini berarti, dengan mengetahui siapa tertarik kepada siapa atau siapa menghindari siapa, kita dapat meramalkan arus komunikasi interpersonal yang akan terjadi. Makin tertarik kita kepada seseorang, makin besar kecenderungan kita berkomunikasi dengan dia. Kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang kita sebut sebagai atraksi interpersonal ( Atraksi berasal dari bahasa Latin attrahere-ad :menuju; trahere;menarik). Karena pentingnya peranan atraksi interpersonal, kita ingin membicarakan faktor-faktor yang menyebabkan mengapa personal stimuli menarik kita. Sebagaimana sering kita bicarakan dalam bagian-bagian lain, di sini pun faktor personal dan situasional menentukan siapa tertarik pada siapa. Yang menyebabkan saya tertarik kepada Anda boleh jadi sifat-sifat  yang Anda miliki (misalnya, Anda cantik), atau suasana emosional saya (misalnya, saya sedang kesepian). Sebenarnya kedua faktor ini dalam kenyataan sering tumpang tindih, sehingga pembagian di bawah ini hanyalah untuk memudahkan penjelasan saja.
Oleh karena itu, Atraksi Interpersonal adalah kesukaan pada orang lain, sikap positif dan daya tarik seseorang. Adanya daya tarik ini membentuk rasa suka. Rasa suka pada seseorang umumnya membuat orang yang kita sukai menjadi signifikan bagi kita.

B.     FAKTOR-FAKTOR PERSONAL


1.      Kesamaan Karakteristik Personal
Orang-orang yang memiliki kesamaan dalam nilai-nilai, sikap, keyakinan, tingkat sosioekonomis, agama, ideologis, cenderung saling menyukai. Menurut teori Cognitive consistency dari Fritz Heider dalam Jalaluddin Rakhmat (2011), manusia selalu berusaha mencapai konsistensi dalam sikap dan perilakunya. Reader dan English mengukur kepribadian subjek-subjeknya dengan rangkaian tes kepribadian. Ditemukan mereka yang bersahabat menunjukkan korelasi yang erat dalam kepribadiannya. Diketemukan, mereka yang bersahabat menunjukkan korelasi yang erat dalam kepribadiannya.
Don Byrne (1971) menunjukkan hubungan linear antara atraksi dengan kesamaan, dengan menggunakan teori peneguhan dari Behaviorisme. Persepsi tentang adanya kesamaan mendatangkan ganjaran, dan perbedaan tidak mengenakkan. Kesamaan sikap orang lain dengan kita memperteguh kemampuan kita dalammenafsirkan realitas sosial. Kita benar. Kita mendapat dukungan. Kita menyukai orang yang mendukung kita. “An agreeable person,” kita Disreali, “is a person who agrees with me.” (Tubbs dan Moss, 1974:93)
Asas kesamaan ini pada kenyataan bukanlah satu-satunya determinan atraksi. Atraksi interpersonal akhirnya merupakan gabungan dari efek keseluruhan interaksi di antara individu. Walaupun begitu,bagi komunikator, lebih tepat untuk memulai komunikasi dengan mencari kesamaan di antara semua peserta komunikasi.

Contoh: Ketika kita sedang naik kendaraan umum dan berjumpa dengan seorang kenalan baru. Maka percakapan kita berlangsung dan dimulai dari masalah-masalah demografis (dimana anda tinggal, pekerjaan anda, dll) sampai masalah-masalah politik dan sebagainya.


2.      Tekanan Emosional (Stress)
la orang berada dalam keadaan yang mencemaskannya atau harus memikul tekanan emosional,ia akan menginginkan kehadiran orang lain. Stanley Schachter (1959) dalam Jalaluddin Rakhmat (2011)  membuktikan pernyataan diatas dengan sebuah eksperimen. Ia mengumpulkan dua kelompok mahasiswi.Kepada kelompok pertama diberitahukan bahwa mereka akan menjadi  subjek eksperimen  yang meneliti efek kejutan listrik yang sangat menyakitkan. Kepada kelompok kedua diberitahukan bahwa mereka akan hanya akan mendapat kejutan ringan saja. Schachter menemukan diantara subjek  pada kelompok pertama (kelompok yang tingkat kecemasannya tinggi), 63 % ingin menunggu bersama orang lain ,dan diantara subjek pada kelompok kedua hanya 33% yang memerlikan sahabat.Schachter menyimpulkan bahwa situasi penyimpul cemas (anxiety-producing situations) meningkatkan kebutuhan akan kasih sayang. Orang-orang yang pernah ,mengalami penderitaan bersama-sama akan membentuk kelompok yang bersolidaritas tinggi.Ada orang menafsirkan penelitian ini lebih lanjut.

3.      Harga Diri yang Rendah
Menurut Elaine Walster dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) membayar beberapa orang mahasiswi untuk menjadi peserta dalam penelitian tentang keperibadian. Sesuai dengan rancangan penelitian, sebelum eksperimen dimulai, subjek secara kebetulan (sebetulnya tidak) berjumpa dengan seseorang  mahasiswa yang bermaksud menemui peneliti. Terjadilah percakapan sambil menunggu kedatangan peneliti. Si mahasiswa menunjukkan  minat yang besar pada mahasiswi itu. Mereka mengobrol  selama 15 menit dan sang perjaka berusaha untuk mengajak berkencan.Setelah itu, subjek diberi tes keperibadian. Sebagian subjek diberi penilaian yang positif (misalnya  keperibadian dewasa, orisional, dan sensitif), setengahnya lagi diberi penilaian negatif. Maksud Walster,sebagian ditinggikan harga dirinya sebagian lagi direndahkan. Menurut kesimpulan Walster bila harga diri direndahkan,hasrat afiliasi (bergabung dengan orang lain) bertambah, dan ia makin responsif untuk menerima kasih sayang orang lain. Dengan kata lain orang yang rendah diri cendrung mudah mencintai orang lain (Tubbs dan Moss,1974)

4.      Isolasi Sosial
Manusia adalah makhluk sosial,itu sudah diketahui orang banyak.Manusia mungkin tahan hidup terasing beberapa waktu,tetapi untuk waktu yang lama. Isolasi sosial adalah pengalaman yang tidak enak. Beberapa orang peneliti telah menunjukkan bahwa tingkat isolasi sosial amat besar pengaruhnya terhadap kesukaan kita pada orang lain. Bagi orang yang terisolasi  narapidana, petugas rimba atau penghuni pulau terpencil kehadiran manusia merupakan kebahagiaan. Karena manusia cenderung menyukai orang yang mendatangkan kebahagiaan,maka dalam konteks isolasi sosial,kecenderungannya untuk menyenangi orang lain bertambah.

C.     FAKTOR-FAKTOR SITUASIONAL


1.      Dayatarik Fisik (Physical Attractiveness)
Beberapa penelitian mengungkapkan bahwa daya tarik fisik seseorang  sering menjadi penyebab utama atraksi interpersonal. Orang – orang yang cantik atau tampan biasanya lebih disenangi. Mereka, biasanya sangat mudah memperoleh simpati dan perhatian orang. Mereka cenderung dinilai lebih berhasil dalam hidupnya dana memiliki sifat – sifat yang baik. Beberapa penelitian menunjukan bahwa orang – orang yang cantik atau tampan biasanya lebih efektif dalam mempengaruhi pendapat orang dan biasanya diperlukan lebih sopan.

2.      Ganjaran (Reward)
 Kita menyenangi orang yang memberikan ganjaran kepada kita. Ganjaran itu berupa bantuan, dorongan moral, pujian atau hal – hal yang meningkatkan harga diri kita. Menurut teori pertukaran sosial (sosial exchange theory), interaksi sosial adalah semacam transaksi dagang. Kita akan melanjutkan interaksi bila laba lebih banyak dari biaya. Dengan demikian, timbul pada interaksi yang banyak mendatangkan laba. Bila pergaulan saya dengan Anda sangat menyenangkan,sangat menguntungkan dari segi psikologis atau ekonomis,kita akan saling menyenangi (Thibault dan Kelley, 1959; Homans,1974; Lott dan Lott;1974) dalam Jalaluddin Rakhmat (2011).

3.      Familiarity
Konsep ini artinya adalah hal – hal yang sering kita lihat atau sudah kita kenal dengan baik. Jika kita sering berjumpa dengan seseorang, bisanya kita akan menyukainya. Prinsip ini biasa diperluas. Pendapat dan sikap kita biasanya dipengruhi pesan yang diulang – ulang (repetisi). Prinsip ini misalnya sangat dikenal dalam periklanan. Robert B. Zajonc dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) memperlihatkan foto-foto wajah dalam subjek-subjek eksperimennya. Ia menemukan makin seriang subjek melihat wajah tertentu maka ia akan menyukainnya. Dari penelitian tersebut kemudian melahirkan sebuah teori “more exposure” (terpaan saja). Hipotesis itu dipakai sebagai landasan ilmiah akan pentingnya repetisi pesan dalam mempengaruhi pendapat dan sikap.

4.       Kedekatan (Proximinity)
Konsep ini erat kaitannya dengan familiarity. Hubungan kita dengn orang lain tergantung seberapa dekat orang tersebut dengan kita. Penelitian menunjukan bahwa orang cenderung menyenangi mereka yang tempat tinggalnya berdekatan dan persahabatan lebih mudah tumbuh di antara tetangga yang berdekatan. Disini perlu dipertanyakan apakah karena saling menyukai orang berdekatan atau karena berdekatan orang menjadi saling menyukai. Pada dasarnya, kedua hal itu benar.

5.      Kemampuan (Competence)
Ada kecenderungan bahwa kita menyukai orang – orang yang memiliki kemampuan lebih tinggi dari kita atau berhasil dalam kehidupannya. Pemain-pemain bulu tangkis dipuja orang ketika mereka berhasil mengalahkan lawannya, dan dicaci maki ketika mereka gagal. Orang-orang yang sukses dalam bidang apa pun,profesional atau nonprofesional umumnya mendapat simpati orang banyak. Aronson dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) menemukan dalam penelitian yang dilakukannya, bahwa orang yang paling disenangi adalah orang yang memiliki kemampuan tinggi, tetapi menunjukkan beberapa kelemahan. Aronson menciptakan empat kondisi eksperimental, yaitu:
1)      Orang yang memiliki kemampuan tinggi dan berbuat salah
2)      Berkemampuan tinggi tapi tidak berbuat salah
3)      Orang yang memiliki kemampuan rata-rata dan berbuat salah
4)      Orang yang berkemampuan rata-rata dan tidak berbuat salah




D.     TEORI TENTANG LIKING


1.      Physical Attractiviness Theory

Secara naluri, orang akan lebih menyukai orang lain yang menarik dari sisi penampilan fisik. Ini misalnya saja: cantik, tampan, bersih, rapi, teratur, dan seterusnya dan seterusnya. Orang yang penampilannya paling tidak rapi sekalipun terkadang tidak menyukai orang lain yang tidak rapi. Perokok sendiri sering tidak menyukai perokok lain yang merokoknya sembarangan.

2.      Competency Theory

Orang cenderung lebih menyukai orang lain yang lebih kompeten, punya banyak kebisaan, lebih kreatif, lebih terampil, lebih smart, dan seterusnya dan seterusnya. Bahkan untuk urusan pekerjaan, orang lebih menyukai / mempercayai orang lain karena melihat kompetensinya ketimbangan saudaranya, anaknya atau sahabat karibnya.

3.      Reciprocal Theory

Orang cenderung menyukai orang lain yang menyukainya (ada timbal baliknya). Like attracts like, begitu katanya. Tapi ini masih dengan catatan bahwa kesukaan yang kita tunjukkan itu haruslah genuine, bukan dibuat-buat atau hanya untuk mencari muka. Kalau itu dibuat-buat atau hanya sekedar untuk mencari muka, biasanya malah menimbulkan ketidaksenangan.

4.      Similiarity & Complementary Theory

Orang cenderung menyukai orang lain yang punya beberapa kemiripan / kesamaan dengan dirinya. Ini misalnya saja: satu daerah, satu almamater, satu partai, satu hobi, satu visi, satu pemikiran, satu perasaan, dan seterusnya dan seterusnya. Tetapi katanya, kesamaan dan kemiripan ini tidak mampu menghasilkan kesenangan yang langgeng apabila tidak ditopang oleh unsur lain yang menjadi penguatnya. Karena itu harus ada complementary-nya: saling mengisi, saling mendukung, saling memberi-mendapatkan, dan seterusnya. Jika complementary-nya tidak muncul, maka dengan sendirinya similiarity-nya itu hanya sekedar masa lalu.

5.      Exchange Theory

Orang akan menyenangi orang lain yang memberikan untung, nilai plus, atau manfaat kepadanya. Minimalnya tidak sampai merugikan. Soal itu berupa materi atau non-materi, itu soal konteks. Prinsipnya, tidak ada manusia yang bisa menerima kerugian dari proses interaksi yang dijalankan.

6.      Reinforcement Theory

Orang akan menyenangi orang lain yang menghargai dirinya. Ini tidak saja dialamatkan secara khusus kepada orang yang memberi penghargaan itu, melainkan juga kepada orang yang dekat dengan si pemberi. Memberi penghargaan dapat memasukkan bentuk-bentuk perasaan positif.

7.      Gain-loss Theory

Menurut teori ini, kita akan menyukai orang lain yang evaluasinya, koreksinya, atau dukungannya kepada kita cenderung selalu membaik, bukan semakin memburuk atau biasa-biasa saja. Sebaliknya juga begitu. Kita lebih cenderung akan tidak senang sama orang lain yang makin lama bukannya makin baik penilaiannya, sikapnya atau perlakuannya.

E.      PENGARUH ATRAKSI INTERPERSONAL PADA KOMUNIKASI INTERPERSONAL


a.       Penafsiran Pesan dan Penilaian

Sudah diketahui bahwa pendapat dan penilaian kita tentang orang lain tidak semata-mata berdasarkan pertimbangan rasional. Kita juga makhluk emosional. Karena itu, ketika kita menyenangi seseorang,kita juga cenderung melihat segala hal yang berkaitan dengan dia secara positif. Sebaliknya, jika kita membencinya, kita cenderung melihat karakteristiknya secara negatif.

Komunikator yang dipandang menarik, karena kesamaan,  kedekatan, daya tarik fisik, lebih efektif dalam mempengaruhi perubahan pendapat dan sikap. Beberapa penelitian mencoba menghubungkan apa yang dipilih dalam Pemilu dengan kesukaan pada calon anggota Congress di Amerika Serikat. Kesamaan sikap antara pemilih dengan calon, apalagi kalau ditambah daya tarik fisik calon, merupakan prediktor (peramal) yang sangat tepat untuk meramalkan pilihan orang dalam Pemilu.




b.      Efektifitas Komunikasi

Komunikasi interpersonal dinyatakan efektif bila pertemuan komunikasi merupakan hal yang menyenangkan bagi komunikan. Bila anda berkumpul dalam satu kelompok yang memiliki kesamaan dengan Anda,Anda gembira, dan terbuka. Berkumpul dengan orang-orang yang anda benci akan membuat Anda tegang,resah, dan tidak enak. Anda akan menutup diri dan menghindari komunikasi.

Bila keadaan seperti ini, yang sudah di buktikan oleh Wolosin (1975), kita perluas pada situasi komunikasi lainnya, kita dapat menyatakan bahwa komunikasi akan lebih efektif bila komunikan saling menyukai.


2.     Hubungan Interpersonal


Hakikat dari hubungan interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya. Jadi ketika kita berkomunikasi kita tidak hanya menentukan content melainkan juga menentukan relationship. Pandangan ini merupakan hal baru dan untuk menunjukan hubungan pesan komunikan ini disebut dengan metakomunikasi.
Komunikasi yang efektif ditandai dengan adanay hubungan interpersonal yang baik.  Menurut Anita Taylor dalam Jalaluddin Rakhmat (2011), komunikasi interpersonal yang efektif meliputi banyak unsur tetapi hubungan interpersonal barangkali yang paling penting. Setiap melakukan komunikasi, kita bukan hanya sekadar menyampaikan isi pesan (content), tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonal (relationship). Berikut ini adalah contoh beberapa kalimat yang menunjukkan kadar hubungan interpersonal yang berbeda, yaitu:
§  Rumahmu dimana?
§  Dimanakah rumah anda?
§  Bolehkah saya tahu dimana rumah anda?
Pandangan bahwa komunikasi mendefinisikan hubungan interpersonal telah dikemukakan oleh Ruesch dan Bateson (1951) pada tahun 1950-an. Gagasan ini dipopulerkan di kalangan komunikasi oleh Waulawuck, Beavin, dan Jackson (1967). Selain itu, para psikolog juga mulai menaruh minat yang besar pada hubungan interpersonal seperti tampak pada tulisan Gordon W. Allport (1960), Erich Fromm (1962), Martin Buber (1975), Carl Rogers (1951). Semua tokoh psikologi tersebut mewakili mazhab humanistik.
Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya, makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya, sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.
Dalam hal ini berarti bahwa studi komunikasi interpersonal bergeser dari isi pesan kepada aspek rasional. aspek rasional adalah yang menjadi unit analisis dari komunikasi interpersonal. Dari segi psikologi komunikasi, kita dapat menyatakan bahwa makin baik hubungan interpersonal, makin terbuka orang untuk mengungkapkan dirinya; makin cermat persepsinya tentang orang lain dan persepsi dirinya; sehingga makin efektif komunikasi yang berlangsung diantara komunikan.
Hubungan interpersonal terbentuk ketika proses pengolahan pesan, (baik verbal maupun non verbal) secara timbal balik terjadi dan halini dinamakan komunikasi interpersonal. ketika hubungan itu tumbuh, terjadi pula kesepakatan tentang aturan berkomunikasi antara partisipan yang terlibat.

A.     JENIS HUBUNGAN INTERPERSONAL


1.      Model Pertukaran Sosial (social exchange model)

Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu transaksi dagang. Orang berhubungan dengan orang lain karena mengharapkan sesuatu yang memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Kelley dalam Jalaluddin Rakhmat (2011), dua orang pemuka utama dari model ini,menyimpulkan model pertukaran sosialsebagai berikut, “Asumsi dasar yang mendasari seluruh analisis kami adalah bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaska ditinjau dari segi ganjaran, biaya, hasil atau laba, dan tingkat perbandingan..
§  Ganjaran
Ganjaran adalah setiap akibat yang dinilai positif yang diperoleh seseorang dari suatu hubungan. Ganjaran dapat berupa uang, penerimaan sosial, atau dukungan terhadap nilai. Nilai suatu ganjaran berbeda antara seseorang dengan orang lain, dan antara waktu yang satu dengan waktu yang lain.

Contoh:     Bagi orang miskin, uang lebih berharga daripada ilmu pengetahuan. Sedangkan bagi orang kaya, mungkin penerimaan sosial lebih berharga daripada uang .

§  Biaya
Biaya adalah akibat yang dinilai negatif, yang terjadi dalam suatu hubungan. Biaya dapat berupa waktu, usaha, konflik, kecemasan, dan keruntuhan harga diri. Biaya juga berubah-ubah sesuai waktu dan orang yang terlibat.

Contoh:     Bila seorang anak yang miskin berteman dengan sekelompok anak yang kaya. Dalam bergaul, anak miskin ini sering diejek oleh anak-anak kaya tersebut. Anak miskin tersebut mendapat biaya berupa keruntuhan harga diri karena sering diejek oleh teman-temannya.

§  Hasil atau laba
Hasil atau laba adalah ganjaran dikurangi dengan biaya. Bila seorang individu merasa dalam sebuah hubungan tidak memperoleh hasil atau laba sama sekali maka individu tersebut akan mencari hubungan yang lain.
Contoh:     Apabila kita memiliki sahabat yang egois. Kita tetap akan membantunya,  sekadar agar persahabatan dengan orang tersebut tidak putus. Bila bantuan (biaya) disini ternyata lebih besar daripada nilai persahabatan (ganjaran) yang ditermia, maka kita rugi atau tidak mendapat laba.

§  Tingkat perbandingan

Tingkat perbandingan menunjukkan ukuran baku (standar) yang dipakai sebagai kriteria dalam menilai hubungan individu pada waktu sekarang. Ukuran baku ini dapat berupa pengalaman masa lalu atau alternatif hubungan lain.

Contoh:     Bila seorang gadis pernah berpacaran dengan seorang pria yang berjalan sangat bahagia, tetapi akhirnya putus. Saat berpacaran dengan pria lain, maka gadis tersebut akan mengukur ganjaran hubungan tersebut berdasarkan pengalamannya yang dulu.

2.      Model Permainan

Model ini berasal dari psikiater Eric Berne (1964,1972) yang menceritakannya dalam buku Games People Play. Analisisnya kemudian dikenal sebagai analisis transaksional. Dalam model ini,orang-orang berhubungan dalam bermacam-macam permainan. Mendasari permainan ini adalah tiga bagian kepribadian manusia,Orang Tua, Orang Dewasa, dan Anak. Orang Tua adalah aspek kepribadian yang merupakan asumsi dan perilaku yang kita terima dari orang tua kita atau orang yang kita anggap orang tua kita. Orang Dewasa adalah bagian kepribadian yang mengolah informasi secara rasional, sesuai dengan situasi, dan biasanya berkenaan dengan masalah-masalah penting yang memerlukan pengambilan keputusan secara sadar. Anak adalah unsur kepribadian yang di ambil dari perasaan dan pengalaman kanak-kanak dan mengandung potensi intiuisi,spontanitas,kreativitas,dan kesenangan.

3.      Model Interaksional (interactional model)

Model ini memandang hubungan interpersonal sebagai suatu sistem. Setiap sistem memiliki sifat-sifat struktural,integratif,dan medan. Semua sistem terdiri dari subsistem-subsistem yang saling tergantung dan bertindak bersama sebagai satu kesatuan. Selanjutnya,semua sistem mempunyai kecenderungan untuk memelihara dan mempertahankan kesatuan. Bila ekuilibrium sistem terganggu, segera akan diambil tindakannya. Dalam mempertahankan ekuilibrium,sistem dan subsistem harus melakukan transaksi yang dengan lingkungannya(medan)

B.     PERKEMBANGAN HUBUNGAN INTERPERSONAL

1.      Pembentukan hubungan interpersonal

Tahap ini sering disebut sebagai tahap perkenalan (acquintance process); diuraikan seacara terinci oleh Theodore Newcomb dalam The Acquaintance process(1961), Dony Byrne dalam The Attraction Paradigm(1971),dan Dalmas A.Taylor dalam Social penetration: The Development of interpersonal Relationship(1973); di sini kita tidak akan menguraikan proses ini secara terinci. Fokus kita ialah pada proses penyampaian dan penerimaaan informasi dalam peembentukan hubungan. Steve Duck (1976:127)

2.      Peneguhan Hubungan Interpersonal

Hubungan interpersonal tidaklah bersifat statis, tetapi selalu berubah . untuk memeihara  dan memperteguh hubungan interpersonal, perubahan memerrlukan tindakan-tingdakan tertentu untuk engembalikan keseimbangan(equilibrium). Ada 4 faktor yang amat penting  dalam memelihara keseimbangan ini: keakraban, kontrol,rewspon yang tepat,dan nada emosioanl yang tepat.

Fakter pertamaKeakraban merupakan pemenuhan kebutuhan akan kasih sayang. Hubungan interpersonal akan terpelihara apabila kedua belah pihak sepakat tentang tingkat keakraban yg diperlukan.

Faktor kedua adalah kesepakatan tentang siapa yang mengontrol siapa, bilamana.jika dua orang mempunyai pendapat yang berbeda sebelum mengambil kesimpulan, siapakah yang harus berbicara lebih banyak, siapa yang menentukan, siapakah yang dominan. Konflik terjadi umumnya bila masing-masing ingin berkuasa, atau tidak ada pihak yang mau mengalah.

Faktor yang ketiga adalah ketepatan respon artinya, respon A dikuti oleh respon B yang sesuai. Dalam percakapan, misalnya pertanyaan harus disambut dengan jawaban, lelucon dengan tertawa, permintaan keterangan dengan penjelasan. Respon ini bukan saja berkenaan dengan pesan-pesan verbal, tetapi juga pesan-pesan nonverbal.
Faktor keempat yang memelihara hubungan interpersonal adalah keserasian suasana emosional ketika berlangsungya komunikasi. Walaupun mungkin saja terjadi dua orang berinteraksi dengan suasana emosional yang berbeda, tetapi interaksi itu tidak akan stabil. Besar kemungkinan salah satu pihak mengakhiri interaksi atau mengubah suasana emosi.


C.     POLA-POLA RELASIONAL


Ketika suatu hubungan terbentuk, berkembang pula pola-pola komunikasi yang merupakan hasil dari aturan yang diterapkan para partisipan. Ruben menyebutkan ada empat pola relasional:
1.      Suportif dan Defensif

Sikap suportif merupakan sikap yang mendukung komunikasi interpersonal; sebaliknya dengan sikap defensif.

2.      Tergantung (dependen) dan tidak tergantung (independen)

Hubungan yang beriklim dependen dicirikan jika salah satu individu sangat tergantung pada individu lainnya, misalnya karena dukungan, uang, pekerjaan, kepemimpinan, petunjuk dan sebagianya. Sebaliknya dalam hubungan yang independen, seorang individu secara bebas dapat menyatakan ketidaksepakatan, ketidaksetujuan dan penolakan pada individu lainnya.

3.      Progresif dan Regresif.

Hubungan yang progresif adalah hubungan yang ditandai dan menimbulkan kepuasan serta harmoni. Sebaliknya dengan regresif: hubungan tetap berkembang, namun mengarah atau menimbulkan ketidakpuasan dan ketidakharmonisan.

4.      Self-fulfilling dan self-defeating prophecies

Pola hubungan yang dipengaruhi oleh harapan dari pihak-pihak yang terlibat. Jika harapan kita terpenuhi dalam hubungan tersebut maka kita akan bersikap positif terhadap hubungan tersebut, sebaliknya jika harapan kita tidak teropenuhi maka kita akan bersikap negatif terhadap hubungan tersebut.

3.     Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pola Hubungan Interpersonal


a.       Percaya Diri (trust)

Diantara berbagai faktor yang mempengaruhi komunikasi interpersonal, faktor percaya adalah yang paling penting. Sejak tahap yang pertama dalam hubungan interpersonal (tahap perkenalan), sampai pada tahap tahap kedua (tahap peneguhan), “percaya” menentukan efektifitas komunikasi. Secara ilmiah, “percaya” didefinisikan sebagai “mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dan dalam situasi yang penuh risiko”(Giffin,1967:224 234). Definisi ini menyebutkan tiga unsur percaya:

Ada situasi yang menimbulkan risiko. Bila orang menaruh kepercayaan kepada seseorang, ia akan menghadapi risiko. Risiko itu dapat berupa kerugian yang anda alami. Bila tidak ada risiko,percaya tidak di perlukan.

Orang yang menaruh kepercayaan kepada orang lain berarti menyadari bahwa akibat-akibatnya bergantung pada perilaku orang lain.

Orang yang yakin bahwa perilaku orang lain akan berakibat baik baginya.

Sikap percaya akan berkembang apabial setiap komunikan menganggap komunikan lainnya berlaku jujur.

b.      Sikap Suportif

Sikap suportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif dalam komunikasi. Orang bersikap defensif bila ia tidak menerima, tidak jujur, dan tidak empatis. Sudah jelas, dengan sikap defensif komunikasi interpersonal akan gagal. karena orang defensif akan lebih banyak melindungi diri dari ancaman yang ditanggapinya dalam situasi komunikasi ketimbang memahami pesan orang lain.
Komunikasi defensif dapat terjadi karena faktor-faktor personal (ketakutan,kecemasan,harga diri yang rendah,pengaaman defensif,dan sebagainya) atau faktor-faktor situasional. Diantara faktor-faktor situsioanal adalah perilaku komunikasi orang lain.

c.       Sikap Terbuka

Sikap terbuka (open-mindedness) amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif. Lawan dari sikap terbuka adalah dogmatism. Sehingga untuk memahami sikap terbuka, kita harus mengidentifikasikan lebih dahulu karakteristik orang dogmatis.

Contoh-contoh yang lebih jelas dsan karakteristik orang yg dogmatis atau bersikap tertutup:

Menilai pesan berdasarkan motif pribadi. Orang dogmatis tidak akan memperhatikan ogika suatiu proposisi, ia lebih banyak melihat sejauh mana proposisi itu sesuai dgn dirinya.

Berpikir simplitis. Bagi orang dogmatis, dunia ini hanya hitam dam putih, tidak ada kelabu.ia tidak snggup membedakan yang setengah benar setengah salah.
Berorientasi pada sumber. Bagi orang dogmatis yg paing penting ialah siapa yg berbicara, bukan apa yg dibicarakan.

§  Mencari informasi dari sumber sendiri.
§  Secara kaku mempertahankan dan membela sistem kepercayaan.
§  Tidak mampu membiarkan inkonsistensi.
Agar komunikasi interpersonal yang kita lakukan melahirkan hubungan interpersonal yg efektif, digmatisme harus digantikan dengan sikap terbuka. Bersama-sama dengan sikap percaya dan sikap suportif, sikap terbuka mendorong timbulnya saling pengertian.

PENUTUP

4.     Kesimpulan

1.      Hubungan Interpersonal adalah dimana ketika kita berkomunikasi, kita bukan sekedar menyampaikan isi pesan, tetapi juga menentukan kadar hubungan interpersonalnya.
2.      Atraksi dalam komunikasi interpersonal berarti mengetahui siapa tertarik kepada siapa atau siapa menghindari siapa, kita dapat meramalkan arus komunikasi interpersonal yang akan terjadi. Makin tertarik kita kepada seseorang, makin besar kecenderungan kita berkomunikasi dengan dia.

3.      Faktor-faktor Personal yang Mempengaruhi Atraksi Interpersonal yaitu : Kesamaan Karakteristik Personal, Tekanan Emosional (Stress), Harga Diri yang Rendah, Isolasi Sosial.

4.      Faktor-faktor Situasional yang Mempengaruhi Atraksi Interpersonal yaitu : Dayatarik Fisik (Physical Attractiveness), Ganjaran (Reward), Familiarity, Kedekatan (Proximinity), Kemampuan (Competence).

5.      Pengaruh Atraksi Interprsonal pada komunikasi Interpersonal yaitu terletak pada penafsiran pesan dan penilaian serta efektivitas komunikasi.

 

 

5.     Daftar Pustaka


Mulyana,Deddy. 2005. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar.Bandung: Remaja Rosdakarya.
Rakhmat,Jalaluddin.1994. Psikologi Komunikasi.Bandung: Remaja Rosdakarya.
Littlejohn.1999. Theories of Human Communication,Belmont.California: Wadsworth Publishing Company.
Sarwono, W Sarlito.2009. Psikologi Sosial. Jakarta: Salemba Humanika.
 (Barlund, 1967:71).
teori Cognitive consistency dari Fritz Heider dalam Jalaluddin Rakhmat (2011)
(Tubbs dan Moss, 1974:93)
Stanley Schachter (1959) dalam Jalaluddin Rakhmat (2011)
Elaine Walster dalam Jalaluddin Rakhmat (2011)
 (Thibault dan Kelley, 1959; Homans,1974; Lott dan Lott;1974) dalam Jalaluddin Rakhmat (2011).
Robert B. Zajonc dalam Jalaluddin Rakhmat (2011)
Steve Duck (1976:127)
Eric Berne (1964,1972)

(Giffin,1967:224 234).